Hopeless Wanderer

You heard my voice I came out of the woods by choice
Shelter also gave their shade
But in the dark I have no name

So leave that click in my head
And I will remember the words that you said
Left a clouded mind and a heavy heart
But I was sure we could see a new start

So when your hope’s on fire
But you know your desire
Don’t hold a glass over the flame
Don’t let your heart grow cold
I will call you by name
I will share your road

But hold me fast, Hold me fast
‘Cause I’m a hopeless wanderer
And hold me fast, Hold me fast
‘Cause I’m a hopeless wanderer

I wrestled long with my youth
We tried so hard to live in the truth
But do not tell me all is fine
When I lose my head, I lose my spine

So leave that click in my head
And I won’t remember the words that you said
You brought me out from the cold
Now, how I long, how I long to grow old

So when your hope’s on fire
But you know your desire
Don’t hold a glass over the flame
Don’t let your heart grow cold
I will call you by name
I will share your road

But hold me fast, Hold me fast
‘Cause I’m a hopeless wanderer
And hold me fast, Hold me fast
‘Cause I’m a hopeless wanderer
I will learn, I will learn to love the skies I’m under
I will learn, I will learn to love the skies I’m under
The skies I’m under

Mumford & Sons

Menulis: purely intuition or conscious modelling?

Sebagai editor bahasa, saya mendapatkan ‘privilege’ untuk mengamati tulisan-tulisan yang ditulis oleh akademisi dari berbagai bidang ilmu. Saya selalu tertarik mengamati dua hal: pertama, ragam gaya selingkung atau struktur artikel, dan kedua, authorial voice dan sudut pandang penulis dalam tulisannya. Sangat menarik

Hasil pengamatan saya

Banyak penulis berhasil menyajikan artikel dengan struktur yang bagus, mudah dipahami oleh pembaca. Mereka juga berhasil membangun authorial voice yang authoritative, sounds like an expert – sangat meyakinkan. Keren lah! Darimana asal dua hal tersebut? Bagaimana penulis mengembangkan dua hal itu?

Saya coba telusuri daftar referensinya dan kemudian membaca artikel-artikel yang dikutip. Ada pola yang konsisten antara artikel di dalam referensi dengan struktur tulisan dan authorial voice. Artinya, jika referensinya keren (terutama untuk dua hal tersebut), maka most likely tulisan yang dihasilkan penulis akan keren juga. Sebaliknya, jika daftar pustakanya acakadut, maka tulisannya akan cenderung kurang baik. This is interesting!

Jadi, menulis itu murni intuisi atau modeling?

Ini masih anekdotal ya. Kalau harus melakukan studi, ini bisa memerlukan waktu yang lama, dan mungkin bisa menjadi satu riset doktoral lagi. Tapi, kita boleh berasumsi.

My assumption. Menulis memerlukan proses modelling, dimana penulis harus mengamati tulisan/artikel model, kemudian mengadopsi atau mengadaptasi struktur tulisan dan authorial voice. Menulis akan menjadi intuitif tatkala penulis sudah sangat menguasai ragam struktur tulisan dan berhasil membangun authorial voice-nya sendiri. Implikasi praktisnya, memilih referensi tidak boleh sembarangan, tidak boleh asal nemu dari search engine. Memilih referensi harus ‘purposeful’ – harus ada alasan ilmiah kenapa sebuah artikel dikutip, scientific ground. Jangan sekedar mengutip karena alasan artikel itu ditulis mantan… eaaah #%$@

Kecerdasan Samar

Sebenarnya sistem pendidikan kita telah mengakui dan mempertimbangkan keberagaman bentuk dan wujud kecerdasan. Buktinya, ada beragam subjek mata pelajaran yang menjadi bagian penting dari kurikulum nasional dari SD sampai SMA, yang kemudian menjadi lebih spesifik pada tingkat pendidikan tinggi. Lantas, masalahnya apa dan dimana?

Masalah ada pada penyusunan dan pelaporan pencapaian hasil belajar siswa. Nilai yang dicapai siswa dalam beragam subjek mata pelajaran kemudian [pada umumnya] dijumlahkan dan diambil nilai rata-ratanya. Pada tahapan inilah keberagaman kecerdasan siswa menjadi samar. Siswa menjadi dihargai dari nilai rata-rata seluruh mata pelajaran. Kecerdasan menjadi simplistik, tidak majemuk lagi.

Ada dua hal yang melanggengkan hal ini. Pertama, komunitas sosial cenderung melihat dan menerima nilai rata-rata seluruh mata pelajaran untuk menilai prestasi siswa. Sudah menjadi kebiasaaan – tradisi tidak formal. Tetapi, secara sistem kita juga ‘memformalkan’ praktik ini, yang kemudian mengarah pada hal berikutnya, yaitu (kedua) berbagai skema seleksi masuk pendidikan yang lebih tinggi. Apa syaratnya? Ya, nilai rata-rata. Beberapa hal memang telah dilakukan, memilih hasil belajar beberapa mata pelajaran saja misalnya. Namun, ujungnya tetap sama. Nilai rata-rata cenderung mengkerdilkan kemajemukan kecerdasan anak-anak kita.

Apa yang bisa kita lakukan?

Pendidikan berawal dari rumah. Konon, bentuk sekolah yang paling fundamental adalah keluarga, sehingga kita sebagai orang tua, om-tante, dan teman belajar bisa memberi alternatif pandangan yang berbeda. Keluarga harus mengenali kemajemukan kecerdasan anak dan kemudian memberi ruang yang cukup untuk berkembang. Tidak mudah memang, karena kita masih harus berhadapan dengan tradisi (sistem) yang lebih mengakui nilai rata-rata – tetapi patut diupayakan, kenapa?

Einstein kecil tidak akan naik kelas jika dia dinilai dari kemampuannya menggunakan bahasa. Sewaktu kecil, Einstein diduga mengidap sindrom asperger yang membuat dia tidak berbicara sampai dengan usia 7 tahun. Sampai beberapa tahun berikutnya, dia masih kesulitan berkomunikasi. Hal yang kemudian disebut sebagai ‘Einstein Syndrome’.

Theory and Methodological Borrowing

Menggunakan teori atau metodologi dari bidang lain boleh gak sih?

Boleh. Dalam domain penelitian, langkah peneliti untuk ‘meminjam’ teori atau metodologi dari bidang lain disebut sebagai ‘borrowing’ (baca Murray, 1989; Floyd, 2009; Varpio, 205; Fellows & Liu, 2020).

‘Borrowing’ ada dua macam: ‘theory borrowing’ dan ‘methodological borrowing’.

Theory borrowing merujuk kepada strategi atau langkah peneliti menggunakan teori dari bidang lain, sementara methodological borrowing adalah strategi atau langkah peneliti menggunakan metodologi dari bidang lain.

Kenapa melakukan theory borrowing atau methodological borrowing?

Semua bidang ilmu memiliki keterbatasan dalam hal teori dan metodologi, terutama bidang ilmu yang interdisciplinary dan bidang ilmu yang baru berkembang. New (and) interdisciplinary fields do not have a long history of theory construction and testing (Murray, 1989). Sehingga, penggunaan teori atau metodologi dari bidang lain yang sudah ‘established’ merupakan upaya peneliti untuk menutupi celah kekurangan agar peneliti tersebut bisa memahami topik penelitian dan melakukan analisis lebih baik (atau untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda) – untuk bagian ini, baca Fellows dan Liu (2020).

Apa yang harus dilakukan peneliti ketika melakukan ‘borrowing’?

It is necessary that the borrowing process become explicit, purposive and conscious. This can be accomplished only if researchers understand the important philosophical issues at stake. It is proposed that appropriate borrowing results from a harmony or consonance of theory superstructure, type of science, and social context. Inconsistencies revealed among these elements may result in substantial problems for the research program.

Meminjam teori atau metodologi dari bidang lain harus ‘explicit, purposive, and concious’. Artinya, peneliti harus sadar bahwa dia melakukan ‘borrowing’ – mengetahui tujuan dan alasan meminjam teori atau metodologi dari bidang lain, dan – secara eksplisit menyebutkan/membahas pratik borrowing itu di dalam penelitiannya. Jangan lupa, ketika meminjam teori atau metodologi dari bidang lain, peneliti harus memperhatikan ‘a harmony or consonance of theory (or methodology) superstructure, type of science, and social context’ agar terhindar dari resiko kesalahan penggunaan teori dan metodologi.

Meminjam teori dan metodologi dari bidang lain perlu kita lakukan agar bidang ilmu kita berkembang, khususnya emerging disciplines – bidang-bidang ilmu baru yang sedang tumbuh. ‘Theory borrowing’ membantu kita melihat hal-hal yang tidak bisa kita amati dengan kerangka teori dari bidang ilmu kita, dan ‘methodological borrowing’ memberikan kita kesempatan untuk melakukan penelitian dengan cara yang berbeda.

Inteview

Interview sebagai teknik pengumpulan data itu seperti apa sih? Cuma nanya-nanya aja gitu? Supaya paham, kita harus mengenal jenis-jenis interview sebagai instrumen, dan sekaligus sebagai teknik.

Interview bisa dilakukan dengan satu orang atau dua orang. Emang ada interview dengan dua orang? Ada, namanya Dyadic Interview. Memang tidak se-ngehits interview biasa dengan satu orang atau FGD

(see Caldwell, 2014).

Interview terdiri dari beberapa jenis.

  1. Episodic
  2. Narrative
  3. Focused
  4. Critical Incident

Episodic Interview adalah teknik wawancara dimana pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti berfokus pada topik penelitian. Teknik ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang pemahaman dan interpretasi partisipan tentang suatu topik.

Narrative Interview adalah teknik wawancara yang mengajak partisipan untuk mengingat ‘their history’ – pengalaman yang mereka lalui, atau ‘others’ history’ – pengalaman yang dilalui pihak atau orang lain. Berbeda dari Episodic Interview, Narrative Interview tidak ditujukan untuk menggali pemahaman dan interpretasi partisipan.

Focused Interview merupakan teknik wawancara dengan menggunakan stimulus untuk mendapatkan data, bisa berupa aktivitas atau benda yang kita berikan kepada partisipan agar mereka mau dan mampu menyampaikan sudut pandangnya.

Last, Critical Incident adalah teknik interview dimana pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada responden hanya berkaitan dengan satu kejadian – incident, bukan pengalaman sehari-hari.

See (Flick et al., 2017; Flick & Röhnsch, 2014; Prokopiou et al., 2012)

Geng Filosofi Riset dan Aliran Metodologisnya

Kalau saya menyebut istilah ‘geng motor’, pasti sampeyan langsung bisa menebak apa makna dari kata ‘geng’. Geng (English: gang) merujuk pada sekelompok orang yang membentuk perkumpulan karena adanya kesamaan, entah itu latar belakang sosial, budaya, minat atau hobi, dll. Peneliti juga punya geng! Keren ya hehe

Dari latar belakang metodologi, secara umum geng peneliti terbagi menjadi empat: geng positivism, interpretivism, pragmatism, dan realism. Masing-masing geng itu mempunyai karakteristik yang unik.

Geng positivism percaya bahwa pengetahuan didapat dari observasi menggunakan indra (senses), semuanya harus bisa diukur. Jika tidak bisa diukur, maka anggota geng positivism menganggap bahwa itu bukan pengetahuan. Mereka percaya bahwa peneliti harus objektif, tidak boleh melibatkan nilai personal dalam pengumpulan data dan analisis. Anggota geng positivism melihat diri mereka sebagai ‘the objective analyst’.

Geng kedua, geng interpretivism, memegang prinsip yang berlawanan dari prinsip geng positivism. Kalau geng positivism percaya bahwa peneliti harus objektif, anggota geng interpretivism percaya bahwa peneliti harus melakukan interpretasi di dalam penelitian. Artinya, peneliti harus menggunakan nilai personal di dalam pengumpulan data dan analisis. Anggota geng ini percaya bahwa ‘subjectivism is part of knowledge’ dan pengetahuan merupakan konstruksi sosial, bukan kenyataan yang objektif.

Karena latar belakang metodologis yang berbeda itu, geng positivism dan geng interpretivism sering terlibat tawuran. Entah itu di ruang diskusi tertulis, atau di ruang konferensi. Kalau mereka tawuran, siapa yang bisa mendamaikan?

Nah, geng ketiga, pragmatism, adalah kumpulan orang-orang selow yang bisa mendamaikan anggota geng positivism dan geng interpretivism. Ketika ada tawuran, geng pragmatism muncul menengahi. ‘Eh sob, lu ngapain sih tawuran karena hal abstrak gak jelas. Be practical gitu lo. Dunia ini terlalu rumit untuk diteliti dengan satu sudut pandang metodologis. Itu terlalu cupu sob! Pragmatis aja lah. Ayok kerjasama, yang penting tujuan penelitian tercapai’. Anggota geng pragmatism ini suka mengoprek asumsi filosofis, sehingga pengumpulan data dan analisis yang mereka lakukan sangat fleksibel. Mereka bisa menggunakan beragam pendekatan dan strategi yang berasal dari geng lain, termasuk geng positivism dan interpretivism. Slebor

Geng yang terakhir, realism, adalah gang geje. Anggota geng ini percaya bahwa realita tidak berhubungan dengan pemikiran manusia. Geng ini paling sulit dimengerti. Anggotanya terbagi menjadi dua, direct realism dan critical realism. Direct realism percaya bahwa ‘what you see is what you get’ – kalau kamu melihat kucing, percaya bahwa itu kucing, maka objek itu adalah kucing. Nah lo, bagaimana kalau itu ternyata anjing yang menyamar menjadi kucing? Critical realism berbeda. Mereka percaya bahwa objek yang diamati seringkali menipu – deceptive. Kalau kamu melihat kucing, jangan percaya itu kucing, harus kritis mengamati itu kucing atau bukan, critical.

Geng realism adalah geng yang aneh. Meskipun satu kubu, anggotanya suka berkelahi sendiri, antara direct realism dan critical realism. Mereka suka jambak-jambakan! Geng positivism dan interpretivism agak serem. Kalau mereka tawuran, semuanya jadi mencekam. Maklum, anggotanya banyak. Geng lain suka tawuran, geng pragmatism kemana?

Geng pragmatism nongkrong di warung kopi, nonton geng lain bergulat, sambil makan gorengan. Pragmatis banget kan. ‘Itu ngapain sih tawuran. Kompromi aja lah sob’.

Research Philosophy

Ketika seorang peneliti memilih metode kualitatif, kuantitatif, atau mixed-method, apa yang menjadi dasar pemilihan itu?

Pada tataran praktis, jenis metode yang dipilih bisa dikaitkan dengan tujuan penelitian dan jenis data. Ini yang sering dilakukan oleh peneliti, memilih metode berdasarkan tujuan penelitian dan jenis data yang akan dikumpulkan. Langkah ini tidak salah, namun kita perlu memahami lebih lanjut alasan filosofis yang mendasari metode kualitatif, kuantitatif, dan mixed-method – alasan ini yang menjustifikasi pilihan metode kita pada tataran filosofis. Kita harus memahami filosofi riset (research philosophy).

Apa itu research philosophy? Untuk menjelaskan konsep ini, saya meminjam definisi yang diajukan oleh Bajpai (2011), Tsung (2016), dan Saunders, Lewis, dan Thornhill (2012).

Research philosophy deals with assumption, knowledge, and nature of the study. It is related to the specific way of developing knowledge.

Filosofi riset berkaitan dengan asumsi dan pengetahuan peneliti, serta sifat/karakteristik dari penelitian yang dilakukan. Sehingga, filosofi riset menjadi dasar bagaimana pengetahuan dibangun. Pada umumnya, peneliti lebih sering mempertimbangkan aspek yang terakhir, yaitu nature of the study (yang sebelumnya sudah kita bahas sebagai alasan praktis pemilihan metode). Dua aspek yang lain, yaitu asumsi dan pengetahuan peneliti, masih jarang disentuh. Padahal, dua aspek tersebut sangat penting. Kenapa? Karena peneliti mempunyai asumsi yang beragam tentang sifat kebenaran (truth) dan pengetahuan (knowledge). Research philosophy helps us understand the assumptions.

Di bagian metodologi, kita harus menjelaskan filosofi riset dari penelitian yang kita lakukan. Hal-hal ini yang harus kita tulis:

  1. Peneliti harus secara eksplisit menyebutkan filosofi risetnya, apakah pragmatism, positivism, atau interpretivism.
  2. Alasan yang mendasari pilihan filosofi riset harus dijelaskan, kenapa pragmatism, kenapa positivism, atau kenapa interpretivism? Tidak sekedar kualitatif, kuantitatif atau mixed-methods.
  3. Peneliti harus menjelaskan implikasi filosofi riset terhadap strategi dan tahapan penelitian, serta terhadap metode pengumpulan data yang digunakan. Jika saya memegang positivism, maka apa metode pengumpulan data yang paling sesuai? Jika saya memegang interpretivism, bagaimana saya harus mengumpulkan data penelitian?

Membahas filosofi riset secara eksplisit dalam bab metodologi akan menguatkan posisi metodologis kita sebagai peneliti, sehingga reason seperti ‘saya memilih kualitatif karena malas menghitung angka’ atau ‘saya memilih kuantitatif karena saya tidak bisa menulis banyak’ bisa dihindari. Kita memilih suatu metode karena kita benar-benar memahami filosofi riset yang mendasari metode tersebut.

 

 

 

 

Scaffolding

How do students learn? How can we help them? These two questions have been addressed in many studies, especially in the education landscape, and researchers have proposed various techniques.

One of effective techniques for helping students achieve learning objectives and move upward with gradual progress is scaffolding. What is scaffolding?

Scaffolding is a technique in which teachers gradually shed assistance as students increase their understanding.  The teachers provide successive levels of temporary support in learning, which help students reach higher levels of understanding and skill acquisition. Therefore, learning is like ‘climbing a ladder’. In this technique, teachers must know where the students are, in terms of their levels of understanding and skills. From there (and based on the students’ prior knowledge and skills), teachers share new knowledge or demonstrate new skills, at a higher level. Then, the teachers step back and give students opportunities to practice on their own, to climb the ladder – one step. This can be done both individually or in groups.

With this technique, teachers can provide support more relevant to students’ learning. Learning pace can also be adjusted to students’ level and speed. As both teachers and students know ‘where they are’ – the level, learning will be more realistic and achievable, especially for students. Less burdensome.

 

Phraseological Approach

In translation of texts, especially scientific texts, phraseological approach can be employed to produce documents (translated texts) with appropriate collocations and idioms. To understand what phraseological approach is, we need to understand phraseology.

Phraseology is the study of the structure, meaning and use of word combinations (Cowie, 1994; Ebeling & Hasselgård, 2015).

As a concept, phraseology is often used to describe the tendency of words and groups of words to occur more frequently in specific environments than in others (Hunston, 2011).

In phraseology, the smallest linguistic element is called ‘phraseological unit’. Phraseological units refer to lexical combinations, the meaning of which is defined by the whole expression (Subbotina, 2013). In a simpler definition, phraseological units are word combination whose meaning is defined according to the whole expression, not the language components.

Phraseological units carry emotional expressiveness (emotion) and conciseness of thought expression (thoughts). The units comprise non-figurative phraseological units commonly known as ‘collocations’ and figurative phraseological units called as ‘idioms’.

When using phraseological approach, translators focus on transferring collocations and idioms from the source language to the target language.

Highfalutin Gobbledygook

Scholars in the softer fields spout obscure verbiage to hide the fact that they have nothing to say. They dress up the trivial and obvious with the trappings of scientific sophistication, hoping to bamboozle their audiences with highfalutin gobbledygook (Pinker, 2014).

Most academic writing, in contrast, is a blend of two styles. The first is practical style, in which the writer’s goal is to satisfy a reader’s need for a particular kind of information. The second is a style that Thomas and Turner call self-conscious, relativistic, ironic, or postmodern, in which “the writer’s chief, if unstated,
concern is to escape being convicted of philosophical naïveté about his own enterprise.”

It’s easy to see why academics fall into self-conscious style. Their goal is not so much communication as self-presentation—an overriding defensiveness against any impression that they may be slacker than their peers in hewing to the norms of the guild.

Writing Therapy

Writing is like cooking. It requires deliberate planning. You have to consciously and intentionally create a plan – we often call this ‘an outline’.

You can’t cook in your kitchen without a plan! Oftentimes, writing is difficult because we don’t know what to cook, and therefore we experience difficulties in identifying and finding the materials we need for writing.

Ask these questions to yourself. What is the main objective of my writing? What are the functions of paragraphs in my piece of writing?

Writing Therapy

LinkProject

Hula teman-teman semua. Saya membuat project kecil dengan menggunakan Padlet, namanya LinkProject. The idea is simple, but I think this will help many people, especially teachers.

Kita semua tahu, Internet merupakan sumber materi pembelajaran yang kaya. Banyak website menyajikan materi-materi yang menarik dan bermanfaat. Sayangnya, tidak semua orang tahu alamat website-website tersebut. We need to share, learn, and grow together.

Supaya kita semua bisa berbagi, belajar dan bersama-sama tumbuh menjadi lebih baik, saya mengajak teman-teman untuk berbagi link/tautan website-website yang bermanfaat. How? Silahkan post link/tautan website-website keren di wall LinkProject berikut – bit.ly/link_project IT’S FREE and always FREE. Saya juga akan terus update, mengisi link dan menata supaya bisa diakses dengan mudah.

Jika kita mengumpulkan link/tautan website yang bermanfaat, wall padlet ini akan memberi manfaat untuk banyak orang, especially teachers. So, let’s do it. Visit bit.ly/link_project dan post link di wall LinkProject. Jangan lupa tulis nama ya, supaya kita tahu who the contributor is

Thank you for your contribution! Cheers

BUKA LINK PROJECT melalui website ini. KLIK DISINI atau mampir ke Wall LinkProject di bit.ly/link_project

Critical Thinking

One of the reasons why we have to be able to read critically, using critical approach in reading and understanding information, is because our reality is shaped by what we read.

We should not let our reality be defined by information coming from others’ way of seeing the world. Rather, we must use our critical thinking to construct our reality.

Our reality is co-constructed. It’s a product of collective construction. In that space of collective construction, we always have two choices: sitting quietly and accepting all information coming and defining our reality, or taking a critical stance and performing a synthesis of information so that you can use critical lenses and construct your version of reality.

I take the second one

LIVE. Workshop Amal – How to Write a Literature Review

Untuk melihat rekaman LIVE. Workshop Amal – How to Write a Literature Review, silahkan KLIK DISINI

Download materi workshop, silahkan KLIK DISINI 

Workshop ini membahas bagaimana menyusun kajian pustaka yang kritis sehingga dapat digunakan sebagai bingkai teori penelitian dan kerangka untuk data analisis. Penelitian yang baik bermula dari kajian pustaka yang kritis.

Workshop ini adalah workshop amal. Melalui workshop ini, saya mengajak teman-teman untuk berbagi dengan mereka yang terdampak pandemi. Seluruh hasil donasi dari workshop ini akan dibelanjakan dalam bentuk beras yang nantinya diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Dari workshop ini,  terkumpul 1100KG beras donasi. Terima kasih kepada Bapak Ibu dan teman-teman peserta workshop. Semoga Bapak Ibu dan teman-teman mendapatkan kebaikan dan keberkahan dari donasi yang telah diberikan.

 

Reflective thinking dan critical thinking, apa bedanya?

Reflective thinking – memikirkan apa yang telah kita pelajari (atau baca). Dalam reflective thinking, kita berusaha untuk mengidentifikasi poin-poin penting dari informasi yang telah kita dapatkan. Tujuan utama reflective thinking adalah memahami topik yang kita pelajari.

Critical thinking – mengevaluasi apa yang telah kita pelajari (atau baca). Untuk bisa melakukan critical thinking, kita harus terlebih dahulu mampu melakukan reflective thinking. Kita harus paham dengan topik yang kita pelajari. Kalau belum paham, bagaimana mau mengevaluasi? Make sense ya. Dalam critical thinking, kita mengevaluasi informasi (termasuk data) untuk menghasilkan argumen yang merepresentasikan sudut pandang kita. Tujuan utama critical thinking adalah menghasilkan argument/sudut pandang berbasis evaluasi yang objektif akan informasi.

Begitu ya.

Gap dan Novelty: Apakah Keduanya Sama?

No, beda. Gap adalah celah kosong yang ditinggalkan oleh penelitian-penelitian sebelumnya. Celah kosong ini beragam dan bisa muncul pada tingkatan yang berbeda (baca post saya sebelumnya). Novelty adalah temuan dan kesimpulan dari penelitian kita yang mengisi celah kosong tersebut.

Bayangkan ini. Anda masuk ke sebuah gudang (area penelitian), dan menemukan banyak kotak kardus. Kotak kardus itu ada yang terisi penuh, ada yang setengah kosong, bahkan ada yang nyaris kosong. Seberapa besar kekosongan di dalam kotak kardus itu, that’s the gap! Jadi, gap adalah kekosongan yang ditinggalkan orang lain (peneliti lain) yang sebelumnya mengisi kotak-kotak itu. Tugas kita adalah, menemukan kotak-kotak yang belum penuh, menemukan celah kekosongan. Semakin besar ukuran kekosongan, maka semakin ‘signifikan’ upaya kita untuk mengisi celah itu. Novelty adalah apa yang kita tuang atau isikan ke dalam kotak-kotak tadi supaya kotaknya menjadi penuh. Semakin banyak yang kita tuang atau isikan, maka semakin besar pula kontribusi kita terhadap gudang itu (area penelitian).

Jadi, empat hal ini saling terkait satu sama lain: gap, significance, novelty, dan contribution.

Gap itu celah atau kekosongan. Significance merujuk pada ukuran celah atau kekosongan itu. Semakin besar celahnya, maka penelitian yang bertujuan mengisi celah itu menjadi semakin penting. Novelty adalah hasil penelitian dan kesimpulan yang mengusi celah atau kekosongan. Last, contribution merujuk pada penjelasan tentang bagaimana novelty mengisi celah atau kekosongan tadi. Apa saja yang mengisi celahnya? Itu kontribusi. Semakin besar atau banyak, maka semakin besar atau banyak juga kontribusi kita.

Gitu ya. Gap, significance, novelty, dan contribution

Mencari Gap Penelitian

Mengidentifikasi gap itu gampang-gampang susah. Dibilang gampang, tapi bikin pusing juga. Dibilang susah, tapi doable – bisa dilakukan. Apa sih maunya? 😁

Nah, kalau teman-teman tidak punya pegangan kerangka untuk mencari dan menemukan research gap, teman-teman bisa menggunakan panduan sederhana ini. Kalau sudah ada, ya alhamdulillah.

Pertama, jangan melihat research gap sebagai suatu hal yang besar. Research gap bisa ditemukan di setiap tingkatan dan tahapan penelitian. Gap yang kita temukan di tingkatan/tahapan yang berbeda secara akumulatif akan berkontribusi terhadap significance, terhadap seberapa penting penelitian harus kita lakukan. Jadi, gap bisa banyak macamnya ya 🙂 dari yang kecil printil, sampai yang segede kingkong (VS Godzilla) di tingkatan teori.

Kerangka Identifikasi

Berikutnya, teman-teman bisa menggunakan kerangka ini untuk mengidentifikasi gap di tingkatan/tahapan yang berbeda. Jangan lupa buat coretan ya (catatan+grafis/ilustrasi), supaya gap bisa kita visualisasikan, bisa dilihat sebagai gambar. <— teknik sederhana ini bisa membantu kita memahami konsep yang rumit.

Ini kerangkanya,

Theoretical (and conceptual) gap – Berkaitan dengan teori/framework yang membingkai penelitian; teori apa yang digunakan untuk memahami atau menjelaskan topik penelitian. Gunakan teori lain atau rancang kerangka teori yang berbeda. Konsep apa yang digunakan penelitian sebelumnya? Bagaimana konsep itu didefinisikan/dipahami? Gunakan definisi yang berbeda (jika ada)

Methodological gap – berkaitan dengan metodologi. Untuk topik yang kita teliti, apa ragam metode yang digunakan? Metode apa yang sering digunakan? Metode apa yang jarang atau belum pernah digunakan? Aspek ini berlaku juga untuk aspek-aspek lain dalam metodologi, seperti instrumen, participants, analisis, dll.

Empirical gap– berkaitan dengan hasil dari penelitian sebelumnya. Apakah penelitian sebelumnya memiliki kelemahan yang mempengaruhi data atau kesimpulan? Apakah kesimpulan penelitian sebelumnya bisa digunakan atau berlaku untuk konteks penelitian kita?

Practical gap – Gap terkait aspek praktis.

Untuk menemukan gap, tentu kita harus memahami penelitian kita terlebih dahulu ya. Baru kemudian juxtaposing, membandingkan penelitian kita dengan penelitian-penelitian sebelumnya, dan menempatkan pada/mengaitkan dengan teori/konsep yang ada.

Kadang, menemukan gap itu sulit karena kita tidak memahami penelitian kita sendiri. Betul?

Data is -atau- Data are?

The data is -atau- the data are? Keduanya bisa digunakan, dan keduanya benar, tergantung konsensus/konvensi dalam satu bidang ilmu.

Kenapa berbeda?

Kenapa bisa berbeda? Kenapa sebagian bidang ilmu menggunakan ‘the data is’ – dimana data dianggap uncountable, dan bidang ilmu lain menggunakan ‘the data are’ – data dipandang sebagai countable dan plural?

Konsensus/konvensi tersebut sangat erat kaitannya dengan filosofi yang dominan* dalam satu bidang ilmu: apakah data dianggap sebagai informasi sehingga menjadi uncoutable -atau- data dianggap sebagai kumpulan fakta sehingga menjadi countable.

Keduanya benar

Keduanya benar kok, tidak ada yang salah. Hanya tergantung kesepakatan dalam bidang ilmu. Silahkan cek bidang ilmu masing-masing ya. Kamu menggunakan ‘data is’ -atau- ‘data are’?

 

* Catatan. Saya tulis filosofi yang dominan, karena bidang ilmu berpijak pada filosofi yang sangat beragam.

Resep Menulis

Sebenarnya, apa sih resep menulis supaya tulisan kita ‘berisi’ dan mudah dipahami pembaca? Apakah ada resep khusus atau resep rahasia yang diturunkan dari Planet Namek yang berada pada kordinat 9045XY dalam Tata Surya 7?

Tidak ada resep rahasia

Tidak ada resep rahasia menulis. Hanya, kita sering melupakan hal-hal sederhana yang menjadi bagian penting dari proses menulis. Misalnya, membaca sebagai proses mencari bahan tulisan. Banyak mahasiswa mengeluh kesulitan menulis. Pak, saya mengalami writer’s block. Saya tidak bisa menulis satu kalimat pun. Ketika saya tanya, apa sudah membaca buku? Jawaban yang sering muncul adalah… bisa ditebak ya. Belum! atau hanya satu dua buku.

Membaca adalah bagian penting dari proses menulis. Dalam workshop, saya sering menyampaikan bahwa kita perlu membaca banyak supaya kita bisa menulis dengan baik dan produktif. Tanpa membaca, mustahil kita bisa menghasilkan tulisan. Lebih spesifik lagi, tanpa membaca materi-materi, buku-buku yang baik, sulit bagi kita untuk menghasilkan tulisan yang baik. Untuk bercerita tentang bagaimana memasak mi instan yang pas, kita perlu membaca panduan memasak yang tercetak di belakang bungkusnya. Bukankah begitu?

Kedua, kita sering melupakan proses reflektif setelah membaca. Apa itu? Reflektif, berpikir tentang poin penting dari apa yang sudah kita baca. Apa informasi penting dari materi yang sudah saya baca? Bagaimana informasi ini terkait dengan informasi lainnya? Dan yang lebih penting, apa yang bisa saya sampaikan berdasarkan banyak informasi yang sudah saya baca? Proses reflektif menghasilkan argumen, menghasilkan sudut pandang kita akan suatu topik berbasis dari beragam informasi yang kita dapatkan dari proses membaca. Hayo, siapa yang sudah membaca banyak tapi masih ndak tau mau menyampaikan apa? Mungkin anda melewatkan proses reflektif.

Next, outlining! Tulisan yang baik adalah tulisan yang direncanakan. Apa artinya? That means kita sudah membuat kerangka tulisan sebelum menulis, berpikir tentang bagaimana ide-ide akan ditata dan bagaimana kita akan menyampaikan ide tersebut. Outlining bukan sekedar membuat daftar poin ide yang akan kita sampaikan. No, lebih dari itu. Outlining adalah proses kreatif dimana kita harus berpikir dan merancang bagaimana ide atau kumpulan informasi harus ditata agar membentuk alur argumen atau alur cerita yang baik. People love stories! Alur argumen atau cerita yang baik akan memudahkan pembaca untuk memahami gagasan yang kita sampaikan.

Last, polishing. Polish, polish and polish! Ah saya sudah selesai menulis. That’s it! Kita sering enggan (atau malas) mempoles tulisan kita sendiri. Editing dan proofreading! Iya, editing untuk memastikan substansi tulisan kita, ide ditata dengan baik, dan semua maksud/gagasan tersampaikan dengan kalimat-kalimat yang jelas dan mudah dipahami. Proofreading untuk memastikan tidak ada kelasahan <–  nah ini contohnya! Untuk memastikan tidak ada kesalahan-kesalahan dalam tulisan yang bisa mengganggu mood pembaca. Tulis dengan bahasa yang baik, diksi yang pas, dan jangan lupa TATA BAHASA! Grammar, ladies and gentlemen! Itu penting banget!

Ok, saya ringkas ya. Supaya tulisan kita menjadi lebih baik, jangan melewatkan empat tahapan ini:

  1. Membaca
  2. Refleksi informasi yang kita dapat dari proses membaca
  3. Outlining (membuat rencana/kerangka tulisan)
  4. Polishing – editing dan proofreading

Semoga bermanfaat 🙂    Semoga tulisan kita menjadi lebih baik

Authorial Voice

Semua karya tulis, termasuk artikel ilmiah, membawa authorial voice yang menunjukan identitas dan persona penulis.

Cara penulis membangun authorial voice di dalam tulisannya menjadi sangat penting karena metode yang digunakan berkontribusi kepada keberterimaan karya tulis yang dihasilkan. Authorial voice yang baik membantu pembaca memahami artikel.

Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan authorial voice?

Begini, coba bayangkan anda sedang berbicara dengan seorang anak berusia 5 tahun. Anda ingin mengajak dia makan es krim. Jenis kalimat apa yang akan anda gunakan untuk meyakinkan dia untuk ikut makan es krim bersama anda? Bagaimana dengan isi dan diksinya? Apakah anda akan bercerita tentang komposisi kimia es krim dengan istilah-istilah teknis? Atau anda akan bercerita tentang rasa es krim coklat yang enak dengan bahasa yang mudah dipahami? Nah, isi dan bahasa yang kita gunakan (termasuk diksi, istilah teknis, frasa khusus, jenis kalimat) menghasilkan gambaran tentang siapa kita dari sudut pandang anak itu. Bagaimana dengan artikel ilmiah?

Sekarang kita bawa analogi tersebut ke dalam konteks penulisan artikel ilmiah. Artikel ilmiah adalah salah satu media komunikasi bagi para ahli di bidang tertentu. Lo, tapi saya kan bukan ahli. Mungkin anda memiliki pandangan seperti itu. Sama, saya juga merasa bahwa saya bukan ahli. Tapi, perlu kita pahami bahwa artikel ilmiah adalah media bagi ahli untuk saling bertukar argumen, bukan media bagi anak-anak yang tertarik dengan iming-iming es krim 🙂   sehingga, isi dan bahasa yang kita gunakan harus berada pada tingkatan tersebut.

Authorial voice adalah identitas penulis di dalam tulisan yang dibangun dengan penggunaan bahasa dan pemilihan topik/isi tulisan. Authorial voice yang baik adalah yang sesuai dengan jenis tulisannya, bukan yang melulu menggunakan kalimat ala-ala professor kosmos dari galaksi lain 😀    Darimana kita bisa belajar membangun authorial voice yang baik? Banyak membaca dan sering berlatih menulis. Tidak ada cara lain.

Satu lagi, jangan lupa menyimpan frasa-frasa penting dari area kita masing-masing. That will help. Itu akan membantu kita berkomunikasi dengan kolega penulis/peneliti yang sekaligus pembaca karya kita.

Terakhir, my question, apa yang ada di benak anda ketika membaca tulisan in? Apa yang anda bayangkan tentang penulisnya?

Ngeri kan haha…

Jenis Kalimat Sitasi

Ketika mensitasi, kita dapat menggunakan dua jenis kalimat, yaitu kalimat author-prominent dan kalimat information-prominent. Kapan kita harus menggunakan jenis kalimat sitasi tersebut?

Kalimat author-prominent adalah jenis kalimat dimana nama penulis yang kita sitasi menjadi bagian dari kalimat utama, dan biasanya muncul di awal kalimat. Misalnya, (1) Maxwell (2019) argues that … ; According to Krashen (2016), … Kapan kita harus menggunakan kalimat yang author-prominent? Jenis kalimat ini kita gunakan jika kita ingin menunjukan siapa yang menyampaikan ide/pendapat yang kita kutip. Tidak semua penulis yang kita kutip harus dimunculkan di depan kalimat, hanya figur/tokoh yang ‘prominent’ (berpengaruh atau terkenal) di area kita. Jenis kalimat ini akan menghasilkan efek ‘ini lo, tokoh ini menyampaikan begini’. Tapi ingat, jika terlalu banyak/sering menggunakan kalimat jenis ini dalam tulisan, maka ‘authorial voice’ anda akan menjadi lemah. Suara atau sudut pandang menjadi tidak dominan (This is not good!)

Berbeda dari kalimat author-prominent, jenis kalimat information-prominent tidak menempatkan nama penulis yang kita kutip di dalam kalimat utama. Nama penulis bukan bagian dari kalimat sitasi. Misalnya, (1) This becomes a space for learners (Sudiarto, 2018), atau (2) … should be included in the analysis (Dimble, 2010). Kapan kalimat jenis ini harus digunakan? Kalimat information-prominent digunakan jika kita ingin menonjolkan ide/informasinya, bukan penulis/pemilik ide. Dalam kalimat ini, siapa yang menulis menjadi ‘less important’ – kurang penting dibanding ide/informasi yang disampaikan. Jika yang menyampaikan ide/informasi bukan figur/tokoh yang ‘prominent’ di satu area, maka kita bisa menggunakan kalimat information-prominent. Efek baik dari penggunaan kalimat jenis ini adalah munculnya ‘authorial voice’ kita sebagai penulis. Suara atau sudut pandang penulis menjadi lebih dominan.

Jadi, bagamana kita harus menggunakan dua jenis kalimat sitasi tersebut? Gunakan lebih banyak kalimat information-prominent supaya suara kita sebagai penulis lebih muncul dan dominan; kalimat author-prominent secukupnya saja, untuk memberi kesan ‘this big name also says this idea’.

What about epistemology?

In the previous post, I briefly explained ontology, which can be understood as ‘what exists in the world’ or ‘the reality’ – the source of knowledge. What about epistemology?

Epistemology is how we see knowledge. In other words, it is the study of knowledge. Different from ontology which reflects how researchers perceive the reality, epistemology is about how knowledge (which is obtained from the reality – from what exists in the world) is constructed. Let me write it again. It is about how knowledge is constructed. This affects the way researchers see a research object (or objects)

Objectivist epistemology assumes that the meaning of an object (research object) exists within the object. That’s why it’s called objective 🙂  Researchers with this epistemological position believe that a research object has an objective meaning. On the other hand, constructionist epistemology assumes that the meaning of an object derives from the interaction between the object and the subject/researcher. Imagine this, the meaning of a book emerges from the interaction between the book (the object) and the researcher/reader (the subject). Different researchers/readers might experience different interactions, and the different/various meanings from such interactions contribute to the reality or the knowledge – to what we know about a research object.

Subjectivist epistemology is the opposite pole of objectivist epistemology. Researchers with this stance believe that the meaning of an object come from -or- is given by the researchers, not from the object. An apple is an apple because I call it an apple, because I give meaning to it.

What we believe about the meaning of a research object frames/guides the way we conduct research. Therefore, epistemology becomes the foundation of our methodology.

 

 

Ontology: what’s this?

In a simple sentence, ontology is about what exists, about which individuals can acquire knowledge. It’s the study of being. Why researchers need to understand their ontological position? It’s because ontology helps researchers establish their conclusions in research, especially how certain they can be about the research objects.

For example, researchers with realist ontology believe that there is one single reality, therefore, one single truth. On the other hand, researchers with relativist ontology hold the perspective that reality is constructed in the mind, and therefore, reality is relative depending on how the researchers experience and see it.

So, what’s your ontological stance? Do you believe that there is only one ‘single truth’ or that ‘truth’ – reality depends on how individuals (including you) perceive it?

#invictus

“Life is mostly froth and bubble, Two things stand like stone. Kindness in another’s trouble, Courage in your own.” ― Adam Lindsay Gordon

Life is thickly sown with thorns, and I know no other remedy than to pass quickly through them. The longer we dwell on our misfortunes, the greater is their power to harm us.

Voltaire

Some Corpora Available Online

  • CHAINS: Characterising Individual Speakers CHAINS is a research project funded by Science Foundation Ireland from April 2005 to March 2009. Its goal is to advance the science of speaker identification by investigating those characteristics of a persons speech that make them unique.
  • The Blog Authorship Corpus The Blog Authorship Corpus consists of the collected posts of 19,320 bloggers gathered from blogger.com in August 2004. The corpus incorporates a total of 681,288 posts and over 140 million words – or approximately 35 posts and 7250 words per person.
  • Old Bailey Corpus The proceedings of the Old Bailey, London’s central criminal court, were published from 1674 to 1913 and constitute a large body of texts from the beginning of Late Modern English. The Proceedings contain over 200,000 trials, totalling ca. 134 million words and its verbatim passages are arguably as near as we can get to the spoken word of the period. The material thus offers the rare opportunity of analyzing everyday language in a period that has been neglected both with regard to the compilation of primary linguistic data and the description of the structure, variability, and change of English.
  • CoRD | Corpus of Early English Medical Writing (CEEM) The Corpus of Early English Medical Writing is a corpus of English vernacular medical writing. Consisting of three diachronically divided subcorpora, the corpus covers the entire history of medical writing in English from the earliest manuscripts to the beginning of modern clinical medicine.
  • The York-Toronto-Helsinki Parsed Corpus of Old English Prose (YCOE) The York-Toronto-Helsinki Parsed Corpus of Old English Prose (YCOE) is a 1.5 million word syntactically-annotated corpus of Old English prose texts. As a sister corpus to the Penn-Helsinki Parsed Corpus of Middle English (PPCME2), it uses the same form of annotation and is accessed by the same search engine, CorpusSearch. The YCOE was created with a grant from the English Arts and Humanities Research Board (B/RG/AN5907/APN9528). The corpus itself (the annotated text files) is distributed by the Oxford Text Archive and can be obtained from them free of charge for non-commercial use.
  • ARCHER Corpus (The University of Manchester) ARCHER is a multi-genre corpus of British and American English covering the period 1650-1990, first constructed by Douglas Biber and Edward Finegan in the 1990s. It is managed as an ongoing project by a consortium of participants at fourteen universities in seven countries.
  • Santa Barbara Corpus of Spoken American English The Santa Barbara Corpus of Spoken American English is based on a large body of recordings of naturally occurring spoken interaction from all over the United States. The Santa Barbara Corpus represents a wide variety of people of different regional origins, ages, occupations, genders, and ethnic and social backgrounds. The predominant form of language use represented is face-to-face conversation, but the corpus also documents many other ways that that people use language in their everyday lives: telephone conversations, card games, food preparation, on-the-job talk, classroom lectures, sermons, story-telling, town hall meetings, tour-guide spiels, and more.
  • The Newcastle Electronic Corpus of Tyneside English (NECTE) The Newcastle Electronic Corpus of Tyneside English (NECTE) is a corpus of dialect speech from Tyneside in North-East England. It is based on two pre-existing corpora, one of them collected in the late 1960s by the Tyneside Linguistic Survey (TLS) project, and the other in 1994 by the Phonological Variation and Change in Contemporary Spoken English (PVC) project. NECTE amalgamates the TLS and PVC materials into a single Text Encoding Initiative (TEI)-conformant XML-encoded corpus and makes them available in a variety of aligned formats: digitized audio, standard orthographic transcription, phonetic transcription, and part-of-speech tagged. This website describes the NECTE corpus in detail, and makes it available to academic researchers, educationalists, the media in non-commercial applications, and organisations such as language societies and individuals with a serious interest in historical dialect materials.
  • The Limerick Corpus of Irish English The Limerick Corpus of Irish English (L-CIE) has been developed by the University of Limerick in conjunction with Mary Immaculate College, Limerick. This one-million word spoken corpus of Irish English discourse includes conversations recorded in a wide variety of mostly informal settings throughout Ireland. The corpus is a collection of naturally occurring spoken data from everyday Irish contexts. There are currently 375 transcripts (totaling over 1,000,000 words) available at this site.
  • American National Corpus The American National Corpus (ANC) project is creating a massive electronic collection of American English, including texts of all genres and transcripts of spoken data produced from 1990 onward. The ANC will provide the most comprehensive picture of American English ever created, and will serve as a resource for education, linguistic and lexicographic research, and technology development.
  • Great Britain (ICE-GB) @ ICE-corpora.net The British component of ICE is based at the Survey of English Usage, University College London. The British ICE corpus (ICE-GB) was released in 1998 and is now available. The corpus is POS-tagged and parsed.
  • WebCorp: The Web as Corpus WebCorp LSE is a fully-tailored linguistic search engine to cache and process large sections of the web.
  • WaCKy “We are a community of linguists and information technology specialists who got together to develop a set of tools (and interfaces to existing tools) that will allow linguists to crawl a section of the web, process the data, index and search them. We try to keep everything very laid-back and flexible (minimal constraint on data representation, programming language, etc.) to make it easier for people with different backgrounds and goals to use our resources and/or contribute to the project. We built a few corpora you can download, and in the near future we’ll have a web interface for direct online use of the corpora.
  • VISL – Corpus Eye VISL’s grammatical and NLP research are both largely corpus based. On the one hand, VISL develops taggers, parsers and computational lexica based on corpus data, on the other hand these tools – once functional – are used for the grammatical annotation of large running text corpora, often with or for external partners (project list 1999-2009. The main methodological approach for automatic corpus annotation is Constraint Grammar (CG), a word based annotation method.
  • TIME Magazine Corpus of American English This website allows you to quickly and easily search more than 100 million words of text of American English from 1923 to the present, as found in TIME magazine. You can see how words, phrases and grammatical constructions have increased or decreased in frequency and see how words have changed meaning over time.
  • Regex Dictionary by Lou Hevly The Regex Dictionary is a searchable online dictionary, based on The American Heritage Dictionary of the English Language, 4th edition, that returns matches based on strings —defined here as a series of characters and metacharacters— rather than on whole words, while optionally grouping results by their part of speech.
  • Michigan Corpus of Academic Spoken English >> ELI Corpora & UM ACL The Michigan Corpus of Academic Spoken English (MICASE) is a collection of nearly 1.8 million words of transcribed speech (almost 200 hours of recordings) from the University of Michigan (U-M) in Ann Arbor, created by researchers and students at the U-M English Language Institute (ELI). MICASE contains data from a wide range of speech events (including lectures, classroom discussions, lab sections, seminars, and advising sessions) and locations across the university.
  • LDC – Linguistic Data Consortium New Corpora at the LDC include: Indian Language Part-of-Speech Tagset: Bengali ~100K words of manually annotated Bengali text Message Understanding Conference 7 Timed (MUC7_T) ~ timed annotation for named entities Asian Elephant Vocalizations ~57.5 hours of audio recordings of vocalizations by Asian Elephants NIST 2005 Open Machine Translation (OpenMT) Evaluation ~ source data, reference translations, and scoring software used in the NIST 2005 OpenMT evaluation TRECVID 2006 Keyframes & Transcripts ~keyframes extracted from English, Chinese, and Arabic broadcast programming
  • Linas’ collection of NLP data Here is a collection of linguistic data, including a collection of parsed texts from Voice of America, Project Gutenberg, the simple English Wikipedia, and a portion of the full English Wikipedia. This data is the result of many CPU-years worth of number-crunching, and is meant to provide pre-digested input for higher order linguistic processing. Two types of data are provided: parsed and tagged texts, and large SQL tables of statistical correlations. The texts were dependency parsed with a combination of RelEx and Link Grammar, and are marked with both dependencies (subject, object, prepositional relations, etc.), with features (part-of-speech tags, verb-tense and noun-number tags, etc., with Link Grammar linkage relations, and with phrasal constituency structure.
  • LexChecker LexChecker is a web-based corpus query tool that shows how English words are used. Users submit a word into the query box (like a Google search) and LexChecker returns a list of the patterns in which the word is typically used. Each pattern listed for a word is linked to sentences from the British National Corpus (BNC) that show the word occurring in that pattern. The patterns are what we have dubbed ‘hybrid n-grams’. These are a uniquely useful form of corpus search result. They can consist of a string of words such as keep a close eye on or gain the upper hand. Or they could contain substitutable slots marked by specific parts of speech, for example run the risk of [v-ing] or stand [noun] in good stead or [verb] a storm of protest (as in raise/spark/cause/create/unleash a storm of protest).
  • Forensic Linguistics Institute (FLI) Corpus of Texts Appeals, Blackmail and Extortion, Confessions, Death Row Final Statements, Declarations of War, Last Wills and Testaments, Miscellaneous, Statements by Police, Suicide Notes
  • David Lee’s Corpus-based Linguistics LINKS “These annotated links (c. 1,000 of them) are meant mainly for linguists and language teachers who work with corpora, not computational linguists/NLP (natural language processing) people, so although the language-engineering-type links here are fairly extensive, they are not exhaustive…”
  • CORPORA List The CORPORA list is open for information and questions about text corpora such as availability, aspects of compiling and using corpora, software, tagging, parsing, bibliography, conferences etc. The list is also open for all types of discussion with a bearing on corpora.
  • Corpora for Language Learning and Teaching
  • [bnc] British National Corpus The British National Corpus (BNC) is a 100 million word collection of samples of written and spoken language from a wide range of sources, designed to represent a wide cross-section of current British English, both spoken and written.
  • AUE: The alt.usage.english Home Page This is the web site of the alt.usage.english newsgroup. Contains audio archive.
  • Project We Say Tomato
  • Corpus of Historical American English (COHA) COHA allows you to quickly and easily search more than 400 million words of text of American English from 1810 to 2009 (see details on corpus composition). You can see how words, phrases and grammatical constructions have increased or decreased in frequency, how words have changed meaning over time, and how stylistic changes have taken place in the language.
  • Speech Accent Archive The speech accent archive uniformly presents a large set of speech samples from a variety of language backgrounds. Native and non-native speakers of English read the same paragraph and are carefully transcribed. The archive is used by people who wish to compare and analyze the accents of different English speakers.
  • IDEA – The International Dialects Of English Archive IDEA was created in 1997 as a free, online archive of primary source dialect and accent recordings for the performing arts. Its founder and director is Paul Meier, author of the best-selling Accents and Dialects for Stage and Screen, a leading dialect coach for theatre and film, and a specialist in accent reduction.
  • American Rhetoric: The Power of Oratory in the United States Database of and index to 5000+ full text, audio and video versions of public speeches, sermons, legal proceedings, lectures, debates, interviews, other recorded media events, and a declaration or two.
  • The AMI Meeting Corpus The AMI Meeting Corpus is a multi-modal data set consisting of 100 hours of meeting recordings.

No great mind has ever existed without a touch of madness – Aristotle

Don’t

Don’t go with the flow. Critically evaluate the status quo and create a new flow. Be the flow.

Don’t go with the crowd. Critically evaluate people views and establish your own. Be a light, not a shadow. Live with your own standards.

Stay hungry

Save the best for last? NO.

Have the best today and strive to get another one tomorrow. Stay hungry for improvement.

Pencitraan

Pada hakikatnya, semua manusia adalah makhluk pencitraan, yang selalu dalam usaha untuk menampilkan citra diri yang dikehendaki.

Tapi saya tidak memasang foto apapun, saya tidak mau tampak ‘gimana gitu.

Sunyi bukan berarti tak bermakna. Ketidakhadiran representasi gambar bukan berarti ketiadaan upaya pencitraan diri. Ketika diam, maka citra itulah yang dikehendaki. Citra supaya tidak tampak ‘gimana gitu’ yang merupakan oposan dari gimana gitu.

Poin yang ingin saya sampaikan, silahkan pasang foto. #bebas karena setiap orang selalu dalam upaya membangun citra diri, dan itu tidak apa-apa. Jangan pedulikan bu Tedjo.

Stephen King on Writing Block

 

“If you don’t have time to read, you don’t have the time (or the tools) to write. Simple as that.” ― Stephen King

You have to read widely, constantly refining (and redefining) your own work as you do so. It’s hard for me to believe that people who read very little (or not at all in some cases) should presume to write and expect people to like what they have written, but I know it’s true. If I had a nickel for every person who ever told me he/she wanted to become a writer but “didn’t have time to read,” I could buy myself a pretty good steak dinner. Can I be blunt on this subject? If you don’t have the time to read, you don’t have the time (or the tools) to write. Simple as that.
Reading is the creative center of a writer’s life. I take a book with me everywhere I go, and find there are all sorts of opportunities to dip in … Reading at meals is considered rude in polite society, but if you expect to succeed as a writer, rudeness should be the second-to-least of your concerns. The least of all should be polite society and what it expects. If you intend to write as truthfully as you can, your days as a member of polite society are numbered anyway.

Discourse is how a language is used socially to express meanings. Language is never neutral as it connects our personal and social worlds (Henry and Tator 2002).

Reading Block

Because writing is a reflective process in which writers critically reflect concepts they obtain from reading activities and develop arguments based on the acquired/comprehended concepts, reading block can simply be  understood as inadequate reading #NoDrama. Read!

Pedagogical Knowledge

Kita (termasuk saya) sering lupa bahwa pengetahuan dalam bidang tertentu (knowledge of a particular subject) berbeda dari pengetahuan dan ketrampilan pedagogis untuk pengajaran bidang tersebut (pedagogical knowledge and skills of the subject). Sehingga, kita sering terjebak pada analogi ‘pemain sepak bola yang jago adalah pelatih yang baik untuk siswa sekolah sepak bola’ atau analogi ‘mike tyson adalah pelatih tinju terbaik karena dia adalah juara dunia tinju’. Apakah Cus D’Amato seorang boxer kelas dunia?

Pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang tertentu memang diperlukan untuk pengajaran bidang tersebut. Tapi, dalam pendidikan, pengetahuan dan keterampilan bidang saja tidak cukup, ada yg lebih penting. Pedagogical knowledge and skills.

Pemenang hadiah nobel Fisika belum tentu bisa mengajar Fisika SMP di sekolah Indonesia. In other words, untuk mengajarkan Fisika di tingkat SMP di Indonesia, kita tidak memerlukan pemenang hadiah nobel Fisika.

Seberapa besar porsi yang diperlukan, antara pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang ilmu, dan pengetahuan dan ketrampilan pedagogis untuk pengajaran bidang tersebut, that demands more research. But my assumption is simple, pengetahuan dan ketrampilan pedagogis untuk pengajaran suatu bidang harus berada pada level tertinggi, #GasPol! sedangkan pengetahuan dan ketrampilan pada bidang ilmu tersebut secukupnya saja.

Saya lebih suka berada di kelas bersama dengan guru yang mempunyai kemampuan pedagogis hebat.

Ref. Pedagogical Knowledge 

A message for myself

It’s easier for us to see our inabilities and doubts, which prevent us from trying, doing and achieving. Perfection is shadowing us, making it difficult to accept flaws and failures.

Well, my friends. Focus on abilities and confidence. Try, do and achieve. Perfection is a myth. It’s ok to get 7 out of 10, or even 5. Believe in yourself. Let’s accept our flaws and failures as part of our journey to achievements. Without the pain, our gain would be plain.

Finding yourself is not the right attitude, because this assumes that ‘yourself’ is there, somewhere, and your mission is to find it. What if you never find it?

Create yourself, because it’s always within you.

Don’t play their game

Everybody is playing a game and sometimes they will take you into the field and push you to play it. If you do, there will be two possible results: you win the game or you lose it. Because it’s not your game, the probability that you lose is greater. They set the rules.

Leave it.

Not playing the game doesn’t mean you lose. That means you have your own rules and won’t let others drag you. Leave their game.

Life is like riding a motorcycle.
You will face the wind and rain, but you always have the option to accelerate. Focus on the destination. Just make sure you keep your balance and enjoy the ride. Be grateful for the journey. #life

Barangkali, setiap kita harus menyadari bahwa di belantara ilmu, kita tidak lebih dari remahan rengginang atau rontokan abon malkist. Dengan mengetahui luasnya ilmu, kita bisa menjadi rendah hati.

Kenapa kita tidak boleh membenci orang

Membenci dan berkata buruk tentang makanan saja tidak boleh, apalagi membenci sesama manusia

Sepatutnya biasa saja. Membenci orang lain karena berbeda dari kita itu bentuk pengingkaran kenyataan bahwa kita juga tidak sempurna, dan mungkin ada orang lain yang membenci kita karena ketidaksempurnaan itu. Membenci orang lain karena berbeda juga bisa jadi bentuk kesombongan, karena kita menilai orang lain tidak lebih baik dari kita.

Sepatutnya biasa saja, seperti berhadapan dengan takjil yang beragam. Ambil saja yang baik.

#RefleksiRamadan

The Power of Self-acceptance

Paijo malah ikut tertawa ketika beberapa orang di dalam ruangan itu menertawakan dirinya. Mungkin karena jengkel, orang-orang itu semakin semangat mengolok dan menertawakan Paijo. Tapi Paijo memang aneh. Semakin keras mereka tertawa, semakin keras pula tawa Paijo. Bhahaha…

Mungkin level jengkel mereka sudah memuncak, sampai akhirnya mereka berteriak. ‘Gendeng kowe jo, tak guyu kok kamu ngguyu. Kamu edan ya, kami tertawakan kok kamu tertawa juga’.

Dengan tawa yang dia nikmati, Paijo menjawab ‘Bhahaha… Jangankan sampeyan, saya sendiri lo menertawakan diri saya. Memang bodoh saya ini haha… Saya ikut menikmati kebahagiaan sampeyan menertawakan orang lain’.

‘Pancen edan!’ Umpat salah satu dari mereka sambil bergerak menjauh. Kemudian, semua ikut berjalan menjauh, meninggalkan Paijo sendiri di dalam ruangan.

Paijo mendekati kursi di sisi ruangan. Duduk tenang, dia menikmati kopi yang sudah tidak panas lagi. Dia biasa saja.

Paijo sudah terlatih remuk hati. Bully itu semacam biskuit yang sering dia nikmati di masa lalu. Sudah biasa. Dia tahu, menyangkal dan melawan orang lain yang menertawakan tidak akan membuatnya merasa lebih baik. Sebaliknya, menerima kekurangan dirinya dan ikut tertawa membuatnya lebih kuat.

Pelan, Paijo bergumam ‘it’s the power of self-acceptance bro’

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑